Happy New Year!

Di awal tahun 2013 ini, gw harus membuat keputusan berat, yakni membekukan sementara blog ini.

Alasannya simple, gw ga bisa memberikan cukup banyak perhatian disini. Jadi sampai nanti gue bisa lebih fokus lagi, blog ini tidak akan menambah tulisan.

Thanks a lot for reading, see you one way or another :)
@ernestprakasa.

#ComicTips: Skill Vs. Feel (By: @GePamungkas)

SUC semakin berkembang, dan banyak komika bermunculan baik di dalam maupun luar pulau Jawa. Premis, setup, serta punchline kini tidak hanya lucu—namun mengandung keunikan dan ciri khas bagi komika itu sendiri. Setlist yang rapih, dan teoritis kini menjadi tujuan utama para komika pemula, yang bahkan jam terbang openmic-nya dapat dihitung dengan jari. Biar gw memulai dengan kata-kata berikut; “Fuck skill, just feel!”

Setelah bepergian dari kota ke kota, dan bertemu para kawan komika, gw menemukan satu hal yang menarik. Beberapa comic cenderung mengutamakan dalam penggunaan analogi, rule of three, act out, call back, serta tehnik-tehnik lain dalam setlist-nya. Namun kenyataannya, materinya gak lucu. Alhasil, tentunya menimbulkan tawa…. comic nya sendiri yang ketawa, penontonnya sih kecewa!

Berikut adalah pertanyaan para komika yang sering dilontarkan ke gw:

“Gimana sih caranya pake Act-out?”
“Bang, gw ada rule of three nih, menurut lo gimana?”
“Gimana sih cara pake analogi, dan/atau call back?”
“Bang, boleh minta folbek?”
“Kamu kok eksotis sih?”
“Keluarin dimana nih?”
(Abaikan pertanyaan ke 4, 5 dan 6)

Mungkin ada beberapa komika yang mengira bahwa dengan adanya “jurus” makanya materinya bakalan lucu. Ini adalah sudut pandang yang keliru. Karena menurut gw, “jurus” (seperti rule of three, call back, dsb) itu hanya membuat materi lo menjadi lebih “berwarna”—lucu sih belom tentu, tapi yang pasti berwarna.

Yang penting, menurut gw, adalah lo ngerti dulu di materi yang mau lo bawain ada punchline nya. Jangan menggunakan “jurus” untuk menciptakan punchline, tapi gunakanlah “jurus” untuk mempercantik punchline lo. Sekeren-kerennya “jurus” lo, tapi materinya gak lucu, ya berarti emang cuman keren. Lucu sih engga, tapi keren i….ya menurut lo kalo comic gak lucu, keren gak?! Nah tapi walaupun lo ga ada “jurus”, tapi materi lo emang bener-bener lucu, ya pastinya akan mengundang ketawa dari penonton. Setidaknya juga akan mengundang beberapa pertanyaan dari penonton, kalo beruntung ya pertanyaan 5 dan 6 (Oke, ini udah mulai menyimpang).

But then again, who cares about skills? Penonton akan tetap ketawa kalo materi lo bagus kok, tanpa memperdulikan apakah setlist lo penuh “jurus” atau tidak. “Jurus” emang pengaruh, tapi bukan urutan nomer satu dalam setlist lo. Jangan memaksa premis lo untuk matang dengan menggunakan “jurus”, ketika lo sendiri juga sadar bahwa sebenarnya lo juga belom menemukan sesuatu yang menggelitik dalam premis lo.

I believe that the reason we’re doing stand up comedy, is not to look cooler, but we do it because we love it. So fellows, stop trying so hard to make your setlist cooler, then ends up regretting it. Menurut gw, stand up comedy adalah sebuah kesenian—dan kesenian seharusnya dimainkan dengan hati. Emang sih awalnya kita belajar dengan teori, tapi masa iya kita pake teori terus dan melakukan hal yang kita cintai tanpa hati?

I’m not saying that you shouldn’t read books, that teaches you how to tell jokes..
I’m not saying that you shouldn’t use techniques in your setlists..
I’m just saying, to fuck skill.. Just feel :)

[@GePamungkas for @ComicKomatKamit]

#ComicOfTheMonth Nov’12: Bintang Timur (@bintangbete)

Screen Shot 2012-12-08 at 1.23.13 AM

Ketika nama “Bintang” disebut oleh MC Adjis (@adjisdoaibu) & Awe (@awwe_), Bekasi Square meledak oleh sorak sorai. Bintang, comic asal Bekasi, dinobatkan sebagai juara Street Comedy 2, sebuah perhelatan 6 bulanan yang digelar oleh @StandUpIndo. Bintang yang malam itu relatif belum banyak dikenal orang, membombardir penonton dengan LPM yang mengerikan. Semua yang hadir menjadi saksi lahirnya fenomena baru.

Setengah tahun sudah berlalu sejak malam yang seru itu. Dan sekarang, Bintang sudah mulai menjadi bintang. Selain dipercaya menjadi pembuka di beberapa special show, Bintang juga sudah mulai sering nongol di Metro TV.

Salah satu alasan kenapa Bintang cepat naik daun adalah gaya komedinya yang unik. Bintang lepas dari pakem eksplorasi stand-up comedy yang biasanya membutuhkan waktu cukup banyak untuk menanamkan premis dan membangun set-up. Ibarat penyanyi, Bintang bernyanyi dengan gaya staccato. Hantaman-hantaman pendek yang patah. Atau mungkin mirip jab dalam tinju.

Seperti ini misalnya:

Gue mau nonton bola, berantem ama mamah. Rebutan remot. Remotnya ilang diumpetin.
Remotnya ketemu, tipinya ilang. Tipinya ketemu, antena ilang. Antena ketemu, mamah gua ilang. Udah ilang, bawa remot lagi. Semuanya ketemu, listrik mati. Listrik nyala, bolanya udah abis.

Coba hitung ada berapa titik tawa di dalam bit pendek barusan. Ajaib, memang. Pertama kali mendengar, mungkin penonton akan butuh waktu untuk mencerna keanehan pola ini. Tapi begitu sudah terbiasa, justru nonton Bintang itu terasa kayak jadi lumba-lumba sirkus yang terlatih, dan dia yang jadi pawangnya. Setiap hentakan, kita melompat. Setiap kalimat, kita tertawa.

Mau ga mau, gue jadi membandingkan Bintang dengan Kemal Palevi (@kemalpalevi). Mereka berdua sama-sama punya persona alami yang sulit dimengerti, yang bisa membuat penonton tertawa, lalu belakangan berpikir: “Asli tadi aneh abis, tapi kenapa gue ketawa ya?”

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai instruktur gitar ini juga sedikit mengingatkan gue akan Soleh (@solehsolihun) & Mongol (@mongol_stres). Tanpa perlu belajar teori, mereka sudah bisa secara instingtif melahirkan bit-bit yang sadis. Tapi bagi Bintang, ini semua masih merupakan awal. Akan sangat menarik untuk ditunggu, seperti apa Bintang dalam waktu satu tahun lagi. Ibaratnya, masi bayi aja udah lari, apalagi ntar kalo udah balita? Ge percaya, Bintang akan jadi salah satu comic papan atas Indonesia.

————————————————————————————————-

Nama: Andreas Bintang Timur
Tanggal Lahir: 25 Juli
Comic Favorit Internasional: -
Comic Favorit Indonesia: Sammy DP (@notaslimboy), Rindradana (@ponakannyaom), Adriano Qalbi (@adrianoqalbi), Insan Nur Akbar (@akbar___), Kukuh Adi (@kukuhya)

————————————————————————————————-

Rangkuman #kultwit @ernestprakasa: Berkarir di Stand-Up Comedy (Mainstream Vs. Non-Mainstream)

Berikut rekap twit berseri gw soal berkarir di stand-up comedy, semoga bermanfaat:

————————————————————————————————-

Makin hari stand-up comedy scene dlm negeri makin terbentuk, & bbrp udh bisa mencari nafkah dgn menjadi comic.

Cth full-time comic slain gw itu @pandji, @setiawanyogy, @mosidik, @crazydhika, dll. Makin hari makin banyak.

Nah klo lo pgn berkarir sbg comic, mnurut gw ada hal mndasar yg harus dipahami: Pengen jadi comic yg kyk gimana?

Knp ini hrs dipahami dari awal? Krn kalo salah pilih jalur, ribet lagi nanti ngerubahnya. Buang waktu & tenaga.

Simpelnya gini, spt halnya musik, comic jg hrs udah tau, mau jd comic mainstream atau non-mainstream? Ini BEDA BANGET.

Yg gw maksud dgn istilah “mainstream” adalah comic yg materinya aman untuk masuk ke TV & event2 corporate.

Jd minim materi blue, topik yg diangkat juga “pop” & mudah dimengerti khalayak umum. Cth: @muhadkly & @mosidik.

Comic non-mainstream ya sebaliknya. Comic yg materiya segmented, blm tentu compatible dgn TV / event2 corporate.

Cth comic non-mainstream? Paling gampang ya @ponakannyaom & @Regzindahood. Yg 1 kasar edan, yg 1 full english.

Kira2 gitu beda antara mainstream / non-mainstream. Nah skrg gw kasi plus minusnya. Kta mulai dr comic mainstream.

Plus 1: Comic mainstream bisa dpt duit gede di corporat gigs: company gathering, seminar, talkshow, dll.

Plus 2: Comic mainstream jg bisa lebih cpt ngetop krn ter-expose oleh media dgn audience luas spt TV & radio.

Plus 3: Comic mainstream lebih mungkin u/ ekspansi karir ke bidang lain kyk film, iklan, dll. Intinya showbiz.

Oke itu menurut gw 3 poin plus kalo lo mau jadi comic di jalur mainstream. Sekarang poin minus nya ya.

Minus 1a: Lo akan lebih sulit u/ mendapat respek dr sesama comic, trutama mrk yg non-mainstream. I’ll explain why.

Minus 1b: Comic itu seniman, & akan di-drive oleh kekaguman akan karya seni org lain. Dan seni yg “pop” akan trkesan “ringan”.

Minus 1c: Makanya comic – spt halnya musisi – yg non-mainstream banyak yg mandang mainstream itu “ga berisi”.

Minus 1d: Tp ini ga selalu terjadi, & ga perlu dirisaukan. We can NEVER please everyone. Konsekuensi pilihan.

Minus 2: Sbg comic mainstream, kdg gregetan pgn ngomong seenaknya & nampilin idealisme pribadi, tp sulit nyari ksmptnnya.

Ok skrg gw akan coba bahas ttg plus minusnya klo lo pgn jd comic di jalur non-mainstream.

Plus 1: Materi trbaik dtg dr kejujuran, & enak bgt klo bisa jujur tnp disensor. Bisa ngomong apa aja, asal brtnggungjwb.

Plus 2: Krn segmented, basis massa lo akan lebih fanatik & setia. Mrk akan lebih sulit berganti idola.

Plus 3: Lo akan bisa menjaga standar berkesenian sesuai idealisme lo sendiri. Gada intervensi pasar & media.

Itu nikmatnya jadi comic non-mainstream. Tapi tentu, ada sisi minusnya juga. Menurut gw ada 2 sih yg krusial.

Minus 1: Lo gakan bisa cari duit segampang comic mainstream, krn materi lo ga bisa buat sembarang event.

Minus 2a: Krn ga dibantu media massa, lo jg akan butuh wkt lebih lama u/ ngebangun basis bassa yg solid.

Minus 2b: Lo hrs giat bergerilya, pelan2 nemuin org2 yg mau mluangkan wkt & duit u/ mnikmati karya lo.

Minus 2c: Tp skali lagi, klo udah click, org2 itu pasti akan lebih loyal dibanding fan base u/ comic2 mainstream.

Itu dia plus/minus untuk comic mainstream & non-mainstream. Tentunya itu ga mutlak, alias ada jg comic hibrida.

Comic hibrida bisa mnjalankan kedua sisi tadi dgn baik. Masuk TV hayuk, tapi bikin gig yg idealis juga jalan.

Cth comic hibrida yg keren mnurut gw @notaslimboy & @pandji. Sering di TV, tp klo lagi off-air tetep cadas.

Skali lg, ini cm sharing berd.pngalaman & pngamatan. Istilah2 jg gw bikin sndiri, yg pnting gampang dimengerti.

So, gudlak. Ada bnyk comic keren dlm negeri. Pilih idola lo, trus blg: “Suatu hari, gw bakal lebih hebat dari lo!”.

————————————————————————————————-

[@ernestprakasa]
http://www.ernestprakasa.com

#ComicTips: #SUCI3 – The Why & How

Stand-Up Comedy Indonesia Kompas TV Season 3 a.k.a #SUCI3 akan mulai audisi sebentar lagi. Sebagai program stand-up comedy pertama di Indonesia, SUCI udah terbukti sukses mencetak bintang. Dan mungkin sebagian diantara lo lagi mempertimbangkan untuk ikutan audisi. Sebelum mulai masuk ke tips audisi, gue akan mulai dengan sharing soal manfaat dan resiko ikutan SUCI, berdasarkan pengalaman gue selama ini.

Manfaat ikut SUCI:

1. Lo akan dilatih untuk produktif. Paling ngga di putaran awal, lo akan wajib bikin materi baru selama 6-8 menit. Dan ini akan melatih lo untuk nulis, nulis, dan nulis. Produktif karena dipaksa, tapi hasilnya positif.

2. Lo akan menjalani proses mentoring yang intens dengan banyak orang-orang penting. Komedian yang hebat dan pasti akan membuat lo belajar banyak banget, kayak Pandji Pragiwaksono & Raditya Dika. Menyerap ilmu dari mereka akan membuat wawasan lo sebagai comic berkembang jauh lebih pesat dibandingkan harus belajar sendiri.

3. Lo akan ditempa secara mental untuk menghadapi ratusan penonton di sebuah teater yang keren. Ini akan melatih showmanship lo sebagai seorang performer, dan menaikkan level lo dari yang tadinya mungkin masih sebatas panggung open mic.

4. Lo akan ketemu sama comic-comic lain dari seluruh Indonesia, dan disitu lo akan merasakan uniknya aura kompetisi sekaligus persahabatan. Kalo selama ini lo liat eliminasi Indonesian Idol dan bingung kenapa mereka pada nangis saat temennya gugur, nah di SUCI lo bakal ngerasain sendiri.

5. Lo akan tetep eksis setelah kompetisi berakhir (dengan catatan elo tampil bagus tentunya), karena Kompas TV selama ini selalu menyalurkan bakat-bakat para finalis ke berbagai program yang mereka punya.

6. Terakhir, kalo lo juara, lo dapet 50 juta. Lumayan.

Nah, sekarang kita bahas sisi sebaliknya. Resiko ikut SUCI:

1. Lo harus ngejalanin karantina di hari Senin-Rabu selama tiga belas minggu. Kalo lo kerja kantoran, ini akan jadi masalah besar.

2. Lo akan menerima kenyataan pahit bahwa gagal itu menyakitkan (kalo elo sampe gagal). Tapi bagi gue, kegagalan menghasilkan #MeremMelekTour. Bagi Kemal Palevi, itu menghasilkan #AbsurdTour. Jadi kegagalan itu menyakitkan, tapi bukan berarti kiamat. Tergantung elonya aja.

3. Kalo lo sampe lolos jadi finalis, akan butuh waktu beberapa bulan sampe elo bisa dipanggil Metro TV (kalo elo emang layak dipanggil). Menurut gw ini sangat wajar. Klo lo lolos, image lo akan Kompas TV banget, butuh waktu untuk menetralisir itu.

Jadi itu kira-kira pro/kontra ikut SUCI menurut pengalaman dan pengamatan gue. Nah sekarang kalo lo memutuskan untuk ikutan audisi, ada tiga hal yang perlu lo inget:

1. Lo harus UNIK, bukan hanya LUCU.
Memasukin tahun kedua tumbuhnya stand-up comedy di Indonesia, kualitas comic-comic semakin edan. Dalam setiap kesempatan ke berbagai kota di Indonesia, gue selalu dibuat kagum oleh garangnya comic-comic lokal. Ini adalah berita baik buat industri, tapi berita buruk buat elo. Artinya, kompetisi sekarang luar biasa berat. Lucu aja nggak cukup. Kompas TV akan ngeliat: Apa bedanya elo sama comic lain? Inget, fokus di persona sama pentingnya dengan fokus di materi.

2. Ruang audisi itu horor.
Ini yang seringkali ga disadari para peserta audisi. Banyak comic gokil yang rontok di audisi musim lalu, dan saat gue tanya, jawabannya sama: Gugup karena ketemu Mas Indro. Inget, bahwa lo akan ngelawak di depan legenda lawak Indonesia. Udah pasti bukan perkara enteng. Jadi sadari dari awal, bahwa pressure di ruang audisi akan sangat tinggi. Baca #ComicTips edisi “Demam Panggung” mungkin akan membantu.

3. This is showbiz.
Gue inget banget kejadian Luqman Baehaqi gagal lolos di Season 2, sementara comic-comic baru kayak Jessica Farolan & Agung Motivamor dikasih kesempatan mencicipi putaran final. Jelas Luqman bukan kalah lucu, tapi karena Jessica & Agung punya keunikan yang membedakan mereka dari comic-comic yang lain. Inget, gagal audisi bukan berarti lo comic jelek, hanya terkadang dunia showbiz punya pertimbangan tersendiri, walaupun susah untuk diterima.

Itu dia #ComicTips seputar perhelatan akbar #SUCI3. Semoga membantu! :)

@ernestprakasa
[www.ernestprakasa.com]

#GigReview: Little Men, Big Problems – 25 Nov. 2012 (By: @ismanhs)

Kiri-Kanan: @Adriandhy, @ernestprakasa, @muhadkly (Photo by @ismanhs)

Ada lima kata yang harus kita hindari kalau mengulas acara stand-up comedy: “Kalau nonton langsung, percaya deh.” Mengulas Little Men, Big Problems (#LMBP) tanpa menggunakan kata-kata tersebut itu seperti berusaha menjelaskan enaknya burger pada orang dewasa yang dari lahir tidak pernah makan daging.

#LMBP berlangsung di lokasi yang sama dengan gig “We Are Not Alright”. Ini adalah berkah sekaligus cobaan terbesar bagi komika mana pun yang akan tampil. Berkah karena seratusan orang penonton stand-up di cafe seperti Tryst terasa begitu hangat dan akrab. Cobaan karena dua puluhan orang di antara penonton adalah komika juga.

1. Ernest Prakasa (@ernestprakasa)

Ernest membuka #LMBP dengan—saya coba mencari kata-kata yang paling akademis untuk mendeskripsikannya, dan berhasil menemukan yang cocok—ngehe.

Dalam buku Medium-sized Book of Comedy, Stevie Ray menjelaskan bahwa penonton memiliki “izin ketawa”. Tiap orang terdidik secara sosial untuk tahu mana yang boleh ditertawakan dan mana yang tidak. Saat merasa dapat “izin”, barulah seseorang bisa ketawa lepas. Untuk cari aman, seorang komika biasanya mulai dengan lelucon yang ringan dan bersih dulu, baru sedikit demi sedikit beralih ke yang berat atau kasar.

Melalui leluconnya, malam itu Ernest menyampaikan, “Persetanlah dengan main aman!” Dia sembarangan mendobrak batas kenyamanan penonton akan topik mana yang tabu. Baik yang terkait dengan ke-Cina-annya maupun tidak. Ada satu bit yang bahkan membuat sejumlah penonton merasa takut, hanya dengan mendengarkannya saja.

Yang patut dicatat, Ernest menyampaikan semua itu dengan intonasi yang santai dan terkendali. Speak softly and carry a big, mean punchline. Secara umum, sudut pandang materi Ernest kini juga tampak mengalami perkembangan, lebih dekat dengan kesehariannya sebagai pria berkeluarga.

Hanya satu catatan merah dalam penampilan Ernest malam itu; ada lelucon yang menurut saya pribadi tidak etis. Namun, setelah saya tanya, Ernest menyampaikan sudut pandangnya yang berbeda. Ini saya simpulkan sebagai masalah perbedaan persepsi saja. Yang penting, seperti saran Ricky Gervais, seorang komika sebaiknya bisa menjustifikasi seluruh leluconnya. Tidak boleh ada lelucon yang muncul hanya demi kelucuan, dan mengorbankan nurani.

(Saya sengaja tidak memperjelas deskripsi bit-bit di atas untuk menghindari asumsi berdasarkan nama bit semata. Karena saya paham, sulit untuk membaca nama bit seperti “Coli di Laut” tanpa asumsi.)

2. Ryan Adriandhy (@Adriandhy)

Salah satu keuntungan komika Indonesia sekarang adalah keberadaan komunitas yang akrab. Dari sama-sama belajar mengarah ke saling memengaruhi dan berkembang pesat.

Acara Provocative Proactive Stand-up (PPStandUp), sebagai contoh, membuka gerbang bagi para komika untuk mulai membicarakan keresahan yang lebih besar, seperti politik atau agama. Ernest yang mengeluarkan bit-bit berani, saya rasa, termasuk salah seorang yang terinspirasi oleh semangat para komika PPStandUp.

Penampilan Ryan malam ini juga membuktikan perkembangan karena kebersamaan. Gaya penyampaiannya semakin kuat karena pengaruh Adriano Qalbi. Seorang sejawat, Mosidik, pernah memuji Ryan sebagai salah satu komika yang bisa “memaksa penonton tertawa”. Malam itu, Ryan tidak hanya mendorong penonton ketawa, melainkan juga melompat dan menandak. Kekesalan Ryan mengenai pacaran, kesebalannya terhadap teman yang suka membahas logika film, terasa begitu tulus sehingga menggelitik sekaligus menyeret penonton ke dalam pola pikir Ryan.

Sebagai gambaran, salah satu indikator pecahnya penampilan adalah TPM (tawa per menit, padanan untuk LPM). Akan tetapi, dalam kasus ini tidak cukup.TPM ketiga penampil ini rata-rata seimbang. Tapi begitu kita beralih ke indikator lain, rata-rata detik tawa per menit (DTPM), hasilnya langsung berbeda.

Kalau LPM mengukur kuantitas tawa, DTPM justru menunjukkan intensitas tawa. DTPM Rian di lima menit terakhir mencapai 18+. Berarti dalam semenit, rata-rata 18 detik lebih habis untuk penonton tertawa. Segila itu.
Saking terbawanya oleh suasana, Ryan sampai membanting mic dan turun dari panggung, sempat lupa bahwa masih ada komika ketiga.

3. Muhadkly “Acho” (@muhadkly)

Menghadapi penampilan Ryan yang superpecah, Acho naik ke atas panggung dan berhasil membuat untaian tawa penonton terus menyambung. Inilah yang menunjukkan kualitas Acho sebagai penampil.

Masih kuat dan konsisten dengan intonasi Betawi dan pemilihan kata yang ciamik, malam itu pacu pembawaan materi Acho lebih tinggi daripada biasanya. Jadinya memang lebih intens. Bahkan beberapa kali kesulitan artikulasi yang Acho alami tidak meredam reaksi penonton. Kalau acara itu diadakan dalam bentuk lesehan, saya yakin akan banyak penonton yang mempraktikkan ROTFL secara harfiah.

Saya ingat Acho, ketika pertama kali tampil di Stand-Up Nite Bandung I (7 Agustus 2011), memulai penampilannya dengan bit tentang nama Muhadkly dan Priuk. Malam itu, Acho memulai dengan pendekatan serupa, tapi isi yang jauh berkembang. Seakan mendemonstrasikan kemajuan pesat dirinya sebagai komika dalam setahun lebih.

Hemat kata dalam ulasan Acho bukanlah karena tiadanya keistimewaan. Justru pertanda terlalu banyak pujian yang cukup diringkas jadi satu kalimat: Acho melengkapi rangkaian Little Men, Big Problems menjadi salah satu malam terbaik dalam dunia komedi tunggal Indonesia.

Kalau nonton langsung, percaya deh.

[@ismanhs for @ComicKomatKamit]

#GigReview: Arief Didu Show @ JakFringe, 10 Nov. 2012

[Photo courtesy of http://www.pandji.com

Arief Didu adalah salah satu bagian penting dari mencuatnya stand-up comedy di Indonesia. Di malam bersejarah 13 Juli 2011, Arief juga tercatat sebagai salah satu penampil. Tapi entah kenapa selama setahun belakangan, kiprahnya seolah tersalip oleh comic-comic yang terbilang lebih junior. Itu yang bikin Arief Didu Show di JakFringe diliputi keraguan: apa iya Arief bakal tampil mengesankan?

Walau keliatan “tiarap” dari hiruk-pikuk stand-up comedy mainstream, tapi ternyata Arief udah nyipain pembuktiannya sendiri, yaitu panggung JakFringe. Dan persiapan seriusnya nggak sia-sia. Arief menggila malam itu. Dengan delivery yang santai, heartfelt, dan akurat; dia melempar bit demi bit seputaran hidupnya sebagai suami dan ayah ekonomi pas-pasan, menghadapi arus modernisasi yang menuntut banyak biaya. Hal-hal sehari-hari kayak proses persalinan, milih nama bayi, sampai masalah pemakaman, dikupas Arief dengan cara yang bener-bener bikin penonton ngakak sampe pengen nyerah.

Bit-bit Arief nggak sok berat, tapi tetep berbobot berkat ketulusan yang nyata. Saat dengerin Arief cerita, kita seolah dibawa masuk ke keluh-kesah kehidupannya yang kerap bikin kita ketawa tanpa perlu ngerasa bersalah. Dan yang bikin keren adalah dia juga membuktikan bahwa untuk perform dengan sukses, seorang comic sejatinya butuh kejujuran sebagai modal utama. Arief nggak banyak pamer teknik canggih, tapi ngeliat dia curhat dengan ngenes aja udah lucunya minta ampun.

Dia juga kayaknya udah nemuin banget personanya di atas panggung. Guyonannya soal latar belakang Betawi noraknya juga berkali-kali bikin ruangan teather serasa mau rubuh. Dan yang paling seru, kita bisa liat betapa Arief menikmati betul penampilannya, dan nemuin beberapa punch baru di panggung yang dia sendiri sama sekali nggak persiapkan. Dan semakin banyak improvisasi muncul, semakin Arief tampak girang sendiri, semakin kocak jadinya.

Di malam 10 November itu, Arief Didu bagaikan burung Phoenix dengan kobaran api yang menyala, bangkit dari tumpukan debu. He’s far from done. He’s right back in the game!

[@ernestprakasa]
http://www.ernestprakasa.com